Thursday, July 18, 2013|| Bergamo

Saya pulang dari perjalanan di Bergamo dengan senyum lebar―selebar brioche yang setiap hari saya makan untuk sarapan.

Bergamo adalah kota kecil berlokasi sekitar 42 km dari Milan. Kotanya terbagi dua daerah: città alta dan città bassaCittà alta atau daerah atas berisi bangunan bersejarah, sedangkan città bassa atau daerah bawah berisi perumahan dan pusat perbelanjaan yang lebih modern.

Stasiun kereta ada di bassa. Saya naik kereta lokal dari Milan, memakan waktu 50 menit dan ongkos 6 Euro.

Città bassa

Bergamo bukan tujuan wisata populer turis mancanegara. Masih kalah jauh dibanding kota lain seperti Roma dan Venice. Hal ini rasanya yang membuat perjalanan tambah menyenangkan, tidak ada gerombolan turis seperti di kota-kota populer, namun tetap bisa merasakan pengalaman berada di Italia.

Sejak maskapai berbiaya rendah Ryanair menjadikan bandara Bergamo Orio al Serio sebagai salah satu pusat jaringannya (hub), jumlah pengunjung di kota ini meningkat. Ryanair telah menghubungkan Bergamo dengan banyak kota di Eropa.

Tiket pulang pergi Ryanair dari bandara Frankfurt-Hahn ke Bergamo misalnya, sekitar 50 Euro. (Sebagai perbandingan, saya menggunakan Lufthansa dari bandara Frankfurt ke Milan Malpensa pulang pergi menghabiskan 120 Euro.) Dengan tiket semurah itu semakin banyak turis datang mengunjungi Bergamo.

Populasi kota ini hanya sekitar 120 ribu jiwa, namun jumlah pengunjung tahunan bisa sampai enam juta. Maskapai Ryanair diberitakan membantu perekonomian Bergamo sekalipun perekonomian Italia secara keseluruhan sedang menurun.

Saya sewa satu apartemen melalui Airbnb. Harga per malam lebih murah daripada hotel maupun penginapan bed and breakfast, namun apartemen berlokasi di bassa sedangkan daerah wisata di alta. Dari bassa ke alta sebenarnya tidak jauh karena kota ini kecil. Bisa jalan kaki 20 menit (pilihan bijaksana setelah makan seporsi besar pasta) atau dengan bis. Bisa juga kombinasi jalan kaki dan cable car.

Di tengah-tengah alta ada Piazza Vecchia, termasuk square paling indah di Eropa. Ada tiga bangunan utama di sini: katedral Bergamo, katedral Santa Maria Maggiore dan kapel Calleoni. Pada malam hari setiap pukul 10 kita bisa dengar menara lonceng berbunyi 100 kali. Dulu ini untuk memberi tahu penduduk bahwa mereka harus kembali ke alta sebelum gerbang yang memisahkan alta dan bassa ditutup.

Pemandangan dari alta juga indah sekali. Kita bisa melihat pemandangan seluruh Italia bagian utara dari atas. Berada di sana, dengan tiupan angin sepoi-sepoi dan gelato di tangan, benar-benar menenangkan dan membahagiakan.

Pemandangan dari kastil San Vigillio, città alta

I came to Italy pinched and thin, but soon fills out in waist and soul.” kata Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat, Pray, Love.

Satu bagian buku tersebut menceritakan perjalanan Elizabeth di Italia yang didominasi oleh kegiatan belajar bahasa dan makan makanan Italia. “I love my pizza so much, in fact, that I have come to believe in my delirium that my pizza might actually love me, in return.”

Selain pizza, ada beberapa makanan khas Bergamo yang patut dicoba. Yang ada di daftar saya kemarin: casoncelli, polenta, keju taleggio dan gelato rasa stracciatella.

Casoncelli adalah pasta yang diisi campuran daging giling, telur, bayam dan remah roti. Pasta ini populer di Italia bagian utara. Kemudian polenta, pada dasarnya adalah bubur jagung. Polenta ada juga versi manisnya, disebut polenta e osei. Saya tidak suka versi manis ini karena rasanya seperti memakan sesendok penuh gula!

Keju taleggio disarankan oleh teman couchsurfing saya. Aromanya kuat, teksturnya lembek dan pinggirannya tipis. Untuk penggemar keju seperti saya, taleggio ini luar biasa enaknya.

Gelato stracciatella

Terakhir, gelato rasa stracciatella yang ekuivalen dengan rasa chocolate chip. Gelato rasa ini sebenarnya bisa ditemukan di seluruh penjuru Italia tapi konon ditemukan/dibuat pertama kali di Bergamo tahun 1961 oleh Enrico Panattoni di gelateria La Marianna. Gelateria La Marianna masih ada sampai sekarang dan lokasinya di alta. Orang Italia menganggap gelato adalah sesuatu yang wajar untuk dimakan pada jam 9 pagi―tentu saja saya sambut dengan senang hati.

Kota kecil seperti Bergamo tidak kalah indah dan makanannya juga tidak kalah istimewa dari kota-kota populer lainnya. Menghabiskan waktu sehari atau dua hari di sini cukup menyenangkan. Walaupun jumlah turis di Bergamo semakin meningkat, namun tetap relatif lebih sepi dari Milan, Venice dan Roma. Bergamo bisa jadi alternatif tujuan wisata di Italia, terutama kalau bosan dengan keramaian dan lelah sikut-sikutan dengan turis lain. []


Tulisan bisa dibaca juga di Ransel Kecil.
Foto-foto saya taruh di set Flickr.
--

Tujuan perjalanan solo kemarin adalah untuk menghadiri konferensi di University of Bergamo. Presentasi lancar dan apresiasinya lebih dari apa yang diharapkan. Namun merasa agak melankolis karena ini konferensi ATRS yang terakhir dengan status mahasiswa. Semoga di masa depan masih ada kesempatan jalan-jalan melihat dunia seperti ini ya.

10:59 PM |