Saturday, November 07, 2009||
Sweet Paradise & Yokohama China Town
Saya pergi ke Shibuya (lagi) tadi siang. Agenda hari ini adalah makan di Sweet Paradise bersama mas Edo dan Sigit. Sweet paradise itu restoran buffet, menunya adalah cake dan beberapa jenis pasta. Biasanya sweet paradise itu selalu penuh, sampai harus antri di luar, tapi kali ini nggak tuh. Bisa langsung masuk. Tahu mungkin kalau saya sudah sengaja nggak sarapan biar kapasitas lambung bisa dipergunakan optimal :)

Harganya 1480 yen untuk 90 menit makan sepuasnya. Bayar dulu di mesin yang ada di depan, lalu nanti kita dapat tiket yang ditulisi jam berapa kita harus sudah selesai makan. Oh ya selain pasta dan cake, ada juga kare, chocolate fondue, sandwich, salad dan berbagai minuman dari soda, kopi, teh, sirup.
Cake-nya lumayaan laah. Pastanya enak! Interiornya juga lucu. Tapi memangnya, dasar Jepang si pintar. Dia bikin susunan makanannya yang memperlambat gerak kita, jadi waktu 90 menit itu akan banyak terbuang di antrian, bukan digunakan untuk makan.

Selesai dari Sweet Paradise, mampir sebentar di Book Off, tempat buku-buku bekas. Niatnya nyari buku murah, tapi nggak ada yang suka. Mas Edo pulang menuju lab, saya dan Sigit lanjut perjalanan ke Yokohama China Town. Untung ke sananya malam, jadi lampu-lampunya sudah nyala. Seperti layaknya China Town lain dimana pun, isinya ya orang Cina :) Selain itu ada kuil, orang jualan bakpau dan kacang amai kuri (iya nggak ya ini namanya?).

Saya malah dapat pashmina lucu di sana (padahal pashmina kan bukan dari China, ya). Iseng-iseng lihat terus saya tawar, "Discount ga arimasuka?" dengan bahasa jepang ala tarzan. Si ibu penjual mikir lalu bilang, "Jya, anata no me ga kirei da kara..." Ia lalu menyebutkan harga baru yang lebih bersahabat. Seneeeng! Hahaha.
Oh ya, ini oleh-oleh dari Shibuya, khusus buat lelaki. Mau ke Jepang? Banyak lho mbak-mbak kayak gini. Hehe.
My lab is the best one i could wish for. Karena kebanyakan waktu di kampus saya habiskan di lab, rasanya sudah seperti rumah kedua. Ada 15 orang di lab. Mereka dari India, Filipina, Vietnam, China. Orang Jepangnya cuma 4 : sensei, sekretaris, satu murid master dan satu calon PhD. Dibandingkan dengan lab saya dulu di Sendai yang mayoritas orang Jepang, lab ini jauuh lebih menyenangkan.
Satu, karena mostly bukan Japanese, jadi bahasa yang didengar sehari-hari ya bahasa Inggris. Bikin nggak merasa bisu. Hehe. Dua, semua seminar dan presentasi pakai bahasa Inggris, jadi saya nggak haho haho saja. Tiga, orang-orangnya memang menyenangkan. Bukan tipe serius yang tidak suka ngobrol.

Tapi saya makin merasa jadi peneliti itu susah ya. Harus benar-benar tekun dan rajin. Calon riset saya ini masih berantakan konsepnya. Setiap selesai baca satu paper, rasanya kok makin sadar bahwa saya banyak nggak tahunya. Akhirnya cari paper lain lagi. Nah, semakin banyak yang dibaca, rasanya makin butuh referensi lain. Padahal antara satu paper dan lainnya belum tentu bisa dihubungkan esensinya. Chaos.
Saya kemarin dikasih sensei satu report yang dia bilang berguna untuk riset. Saya yang minta sih awalnya.. Tapi kan nggak minta yang 400 halaman bolak balik... Sudah dua hari itu report ada di tangan, tapi masih saya pandang-pandangi saja. Mudah-mudahan isinya bisa pindah ke otak dengan sendirinya. Amiin. Dari mata naik ke kepala, gitu.
October 22nd, 2009. I woke up and realized that today is my 23rd birthday. Since i am new in this city, no one would know about it. Leave alone, getting nice wishes like 'happy birthday, wish you a wondeful years ahead'. So, here was my thought. If the party can't come to me, i'll bring the party myself.
I stopped at this cute bakery shop on my way to campus to buy muffins for my lab's members. They loved it! They are happy and i am certainly happier. I get the celebration just like i wanted :)


Then, they started asking about my age.
Kawai-san asked, "How old are you?"
"Can you guess?"
"E to...." he was thinking, "Twenty...."
"Twenty three! I am twenty three years old!" i said abruptly. Suddenly, guessing my age didnt seem like a good idea.
"Really? You are very young! You are the youngest member of our lab!"
I was surprised. There are four Chinese bachelor students in the lab, they must be younger than me. Then Kawai-san explained that all of the bachelor students in the lab had to spent one year extra to learn Japanese. So, they are all one year older than me. Well, being the youngest one in the lab seems advantegous. Hehe.
Everything was nice. We ate muffins and laughed, until Kawai-san started to talk about my age again. "Batari-san. You are 23 years old and doing your master already. I thought you are like.. twenty seven?"
Dar. Dar. Dar.
"Kawai-san, you haven't eat the muffin, right?"
"No, i haven't. Why?"
"Can you give it back to me?"